Yogyakarta (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Sebagai upaya pencegahan korupsi KPK melalui Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat (Dit. Permas) bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I. Yogyakarta menyelenggarakan program Lokakarya Penyusunan Materi Keagamaan Antikorupsi. Kegiatan ini bertempat di Ruang Rapat PTSP Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I. Yogyakarta, Jalan Sukonandi No. 8, Yogyakarta, pada Jumat, 6 November 2026, pukul 12.30 – 17.00 WIB.
Bidang Humas MAN 2 Kulon Progo turut berpartisipasi aktif dalam acara ini dengan menugaskan Astiti, S.Pd., sebagai perwakilan untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Acara ini secara resmi dibuka melalui zoom oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama D.I. Yogyakarta, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar materi keagamaan antikorupsi yang disusun nantinya memiliki tiga karakter utama:
- Kuat secara substansi dan memiliki nilai keagamaan yang mendalam.
- Praktis dan aplikatif sehingga mudah digunakan oleh penyuluh agama, guru, tokoh agama, serta masyarakat luas.
- Kreatif dan adaptif dengan perkembangan teknologi digital agar dapat diterima oleh masyarakat secara lebih luas.
Lokakarya ini juga menghadirkan sesi penting bersama Ketua KPK tahun 2010-2011, dan Wakil Ketua KPK tahun 2011-2014, Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum.. Dalam pemaparannya, M. Busyro Muqoddas mengajak para tokoh agama dan masyarakat untuk menjadi “imam yang membumi”, yakni sosok yang aktif di tengah masyarakat serta lembaga-lembaga negara. Selain itu, ia juga menyampaikan berbagai persoalan dan dinamika terkait tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia.
Sebagai penutup materinya, M. Busyro Muqoddas menyampaikan renungan bermakna melalui sebuah hadis riwayat Thabrani:
“Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari kiamat, yaitu orang yang mempunyai ilmu yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya.”
Kesan Peserta Astiti, S.Pd., selaku perwakilan Humas MAN 2 Kulon Progo, mengungkapkan kesan mendalamnya usai mengikuti rangkaian lokakarya ini. “Kegiatan ini sangat luar biasa dan membuka wawasan kami di dunia pendidikan. Penanaman nilai antikorupsi melalui pendekatan keagamaan yang praktis, adaptif digital, serta pesan moral yang kuat dari para tokoh bangsa seperti Bapak Busyro Muqoddas memberikan motivasi besar bagi kami untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai integritas dan antikorupsi dalam kehidupan madrasah maupun di tengah masyarakat,” tuturnya. (gia)