Kulon Progo — Di balik reputasinya sebagai madrasah dengan segudang prestasi akademik dan keterampilan, MAN 2 Kulon Progo (akrab disapa “Mandaku”) juga dikenal sebagai salah satu madrasah rujukan dalam gerakan pendidikan lingkungan hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta. Predikat itu tidak datang secara instan, melainkan hasil dari perjalanan panjang membangun budaya peduli dan berbudaya lingkungan yang kini dikenal dengan nama program Adiwiyata.
Latar Belakang Program Adiwiyata
Adiwiyata adalah program nasional yang digagas pemerintah untuk mendorong sekolah dan madrasah menanamkan kesadaran serta perilaku ramah lingkungan kepada seluruh warga satuan pendidikan. Program ini mensyaratkan sekolah mengintegrasikan isu lingkungan hidup ke dalam kurikulum, kegiatan berbasis partisipatif, serta pengelolaan sarana ramah lingkungan. Predikat Adiwiyata sendiri berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, hingga status tertinggi yaitu Adiwiyata Mandiri, di mana sekolah penyandang predikat itu wajib membina sekolah-sekolah lain agar turut menerapkan budaya yang sama.
Sejarah Singkat MAN 2 Kulon Progo
Sebelum berbicara soal Adiwiyata, penting untuk melihat akar madrasah ini. Cikal bakal MAN 2 Kulon Progo bermula dari Pendidikan Guru Agama (PGA) NU 4 Tahun yang didirikan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Kulon Progo pada 1956, dengan kegiatan belajar mengajar pertama kali dimulai Agustus tahun itu di rumah tokoh setempat, KH. Suyuti. Setelah berpindah lokasi dan mengalami beberapa kali pergantian status, lembaga ini resmi dinegerikan lewat SK Menteri Agama Nomor 104/1964, dan pada 30 September 1967 tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari kelahiran madrasah. Perjalanan lembaga terus berkembang: pada 1969 statusnya naik menjadi PGAN 6 Tahun, sebelum akhirnya melalui SK Menag No. 19 Tahun 1979 dipecah menjadi dua entitas — cikal bakal MTs Negeri Wates dan yang kemudian berkembang menjadi MAN 2 Kulon Progo yang berlokasi di Jalan Khudori, Wonosidi, Wates.
Madrasah ini kemudian tumbuh menjadi madrasah plus keterampilan dengan berbagai program unggulan — mulai dari Tata Boga, Agribisnis dan Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), Tata Busana, hingga penguatan Zona Integritas menuju predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Di tengah berbagai capaian itulah, kepedulian terhadap lingkungan hidup tumbuh menjadi salah satu identitas kuat madrasah.
Perjalanan Menuju Adiwiyata Nasional
Komitmen lingkungan di MAN 2 Kulon Progo diwadahi lewat organisasi kesiswaan yang dikenal dengan nama Tim Adiwiyata MAN 2 Kulon Progo, atau akrab disingkat Tamandaku. Melalui wadah ini, siswa dilibatkan aktif dalam program-program seperti pengelolaan bank sampah, penghijauan, ecoprint, hingga kampanye pengurangan sampah.
Titik penting dalam perjalanan ini terjadi pada akhir April 2024, ketika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia resmi menetapkan MAN 2 Kulon Progo sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional Tahun 2024 melalui Surat Keputusan Nomor 6721. Predikat ini berlaku selama empat tahun, dari 2024 hingga 2028. Koordinator Adiwiyata madrasah, Drs. Amir Ma’ruf, MA, menjelaskan bahwa capaian tersebut didorong terutama oleh program Zero Waste dan Zero Paper, yang diterapkan lewat gerakan mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang (3R) di lingkungan madrasah.
Pengakuan atas capaian ini kembali dipertegas pada Februari 2025, ketika Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo menyerahkan Piagam Penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Kepala MAN 2 Kulon Progo saat itu, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd. Penyerahan penghargaan ini berlangsung di sela pelantikan pengurus Jaringan Pengelola Sumberdaya Alam (JPSM) Merti Bawono Asri Kabupaten Kulon Progo periode 2025–2028. Dalam kesempatan itu dijelaskan bahwa program Zero Waste — termasuk larangan penggunaan plastik sekali pakai di kantin madrasah — telah melibatkan seluruh warga madrasah, dari siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga pengelola kantin.
Program dan Kegiatan Pendukung
Untuk menjaga keberlanjutan predikat Adiwiyata Nasional, MAN 2 Kulon Progo terus menggelar berbagai kegiatan penguatan, di antaranya:
- Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Adiwiyata, termasuk pembahasan implementasi regulasi terbaru terkait Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) serta Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PRLH).
- Kampanye Zero Waste melalui media kreatif seperti pemutaran film drama pendek yang diperankan langsung oleh anggota Tamandaku, guna menumbuhkan kesadaran siswa terhadap bahaya sampah plastik.
- Gerakan penanaman pohon, misalnya keikutsertaan dalam gerakan penanaman satu juta pohon bersama Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sebagai bagian dari implementasi eco-theology.
- Pembinaan madrasah dan sekolah lain, sebagai konsekuensi dari status Adiwiyata Nasional yang mengharuskan sekolah penyandangnya membina sekolah lain menuju Adiwiyata Mandiri. MAN 2 Kulon Progo tercatat telah membina sedikitnya enam sekolah/madrasah binaan sesuai SK Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, di antaranya SDN Kalikutuk, MTs Negeri 2 Kulon Progo, SMP Negeri 2 Wates, SMP Negeri 3 Wates, SMP Negeri 2 Kokap, dan MAN 3 Kulon Progo. Kerja sama pendampingan serupa juga dijalin lewat penandatanganan MoU dengan MTsN 5 Kulon Progo pada pertengahan 2025, guna mempersiapkan madrasah tersebut menuju predikat Adiwiyata tingkat kabupaten.
Prestasi Individu dan Regenerasi Kader Lingkungan
Semangat lingkungan ini juga melahirkan kader-kader muda. Salah satunya Almaas Afaada, Ketua organisasi kesiswaan sekaligus Ketua Tim Adiwiyata MAN 2 Kulon Progo, yang pada Juni 2025 terpilih sebagai Ketua Gen Hijau Kulon Progo dalam seleksi yang diikuti perwakilan siswa SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Kulon Progo. Ia terpilih setelah memaparkan gagasan konkret penguatan program Adiwiyata berbasis komunitas siswa — bukti bahwa budaya lingkungan di madrasah ini tidak hanya berhenti pada tataran administratif, tetapi telah menjadi karakter yang tertanam pada generasi mudanya.
Penutup
Perjalanan MAN 2 Kulon Progo menuju predikat Adiwiyata Nasional adalah cerminan konsistensi panjang — dari madrasah yang lahir sebagai lembaga pendidikan guru agama pada 1956, hingga kini tumbuh menjadi madrasah rujukan pendidikan berwawasan lingkungan di Kulon Progo. Dengan status Adiwiyata Nasional yang berlaku hingga 2028, tantangan berikutnya bagi Mandaku adalah menjaga keberlanjutan program sekaligus terus memperluas dampaknya lewat pembinaan sekolah-sekolah lain menuju cita-cita bersama: pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berbudaya dan ramah lingkungan.(zul)

