Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Sebagai bentuk kesiapan dan komitmen atas ditunjuknya MAN 2 Kulon Progo sebagai pilot project pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), MAN 2 Kulon Progo menggelar Rapat Koordinasi Pelaksanaan KBC di Ruang Teater Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu (GPPT) Kampus Pusat MAN 2 Kulon Progo pada Kamis (22/10/2026).
Rapat vital ini dipimpin langsung oleh Kepala MAN 2 Kulon Progo, H. Riza Faozi, S.Ag., M.S.I., dan dihadiri oleh jajaran Tim Manajemen madrasah, para guru BK, serta seluruh Pembimbing Akademik (Wali Kelas).
Dalam pengarahannya, Kepala MAN 2 Kulon Progo, H. Riza Faozi, S.Ag., M.S.I., menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan pentingnya komitmen seluruh elemen madrasah dalam menyukseskan amanah sebagai sekolah percontohan KBC.
“Penunjukan MAN 2 Kulon Progo sebagai pilot project Kurikulum Berbasis Cinta adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. KBC bukan sekadar penambahan materi ajaran, melainkan transformasi pendekatan pembelajaran yang memanusiakan siswa. Melalui KBC, kita ingin menghadirkan suasana belajar yang berlandaskan kasih sayang, kepedulian, dan rasa empati. Ketika peserta didik merasa dicintai dan dihargai, potensi terbaik mereka akan melejit secara optimal, baik secara akademik, keterampilan, maupun akhlakul karimah,” tegas Riza Faozi.
Rapat yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut membahas sejumlah agenda strategis terkait implementasi KBC di lingkungan MAN 2 Kulon Progo, antara lain penyelarasan visi dan misi KBC yaitu mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang ke dalam budaya madrasah harian dan pola interaksi antara guru dan siswa, peran pembimbing akademik (wali kelas): Memperkuat fungsi pendampingan emosional dan karakter peserta didik agar setiap anak mendapatkan perhatian sesuai potensinya (personal touch), dukungan sarana dan keuangan yaitu penyusunan alokasi anggaran dan penyediaan sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran berbasis cinta serta program keterampilan, dan sinergi Zona Integritas (ZI) dan Unit Produksi: Memastikan pelayanan pendidikan berintegritas tinggi serta pembelajaran keterampilan bermuatan humanis.

Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Kurnia Panca Dewi, S.Pd., M.Si., memaparkan kesiapan teknis akademis terkait penerapan kurikulum ini di kelas.
“Secara teknis kurikuler, kita menyelaraskan struktur Kurikulum Merdeka yang sedang berjalan dengan nilai-nilai utama KBC. Kami menyiapkan pedoman bagi para guru untuk menyisipkan pendekatan humanis dan kasih sayang dalam modul ajar, metode asesmen, hingga pengelolaan kelas. Fokus kita adalah menciptakan proses belajar yang menyenangkan (joyful learning) tanpa tekanan, sehingga siswa dapat berkembang sesuai bakat dan minat unik masing-masing,” terang Kurnia Panca Dewi.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah pendekatan kurikulum dan sistem pembelajaran yang meletakkan nilai-nilai kasih sayang (mahabbah), empati, kepedulian, penghormatan atas hak asasi manusia, dan kesadaran spiritual sebagai fondasi utama seluruh proses pendidikan. Inti dari penerapan KBC dijiwai melalui filosofi Panca Cinta, yang meliputi cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala – membangun kesadaran spiritual, keimanan, dan ketaqwaan yang mendalam sebagai poros utama kehidupan. cinta kepada Rasulullah – meneladani akhlak mulia, integritas, dan keteladanan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian.
Cinta kepada orang tua dan guru – menumbuhkan sikap takdzim, hormat, dan kepatuhan yang berlandaskan adab kepada orang-orang yang telah mendidik serta merawat kita, cinta kepada sesama manusia: Mengembangkan rasa empati, semangat berbagi, anti-perundungan (anti-bullying), serta menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan, dan cinta kepada aam dan lingkungan (tanah air) -memupuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, kebersihan, serta rasa nasionalisme dan cinta tanah air.
Ada beberapa fungsi KBC di Madrasah yang meliputi: fungsi edukatif & karakter: Membentuk kepribadian peserta didik yang santun, peduli lingkungan, toleran, serta memiliki kedalaman spiritual dan moral, fungsi psikologis: Menciptakan iklim belajar yang aman, nyaman, dan inklusif (safe and supportive environment), sehingga mencegah timbulnya perundungan (bullying) dan kekerasan di sekolah, fungsi pedagogis modern, yaitu membantu guru beralih dari metode mengajar yang kaku/instruktif menuju metode pendampingan yang ramah, dialogis, dan inspiratif, dan fungsi penguatan keterampilan hidup, yaitu mendorong siswa untuk menerapkan ilmu dan keterampilan yang dimiliki demi kemaslahatan sesama atas dasar rasa cinta kepada sesama manusia dan lingkungan.
Rapat koordinasi ini diakhiri dengan komitmen bersama seluruh jajaran MAN 2 Kulon Progo untuk segera menyusun langkah aksi (action plan) dan sosialisasi kepada seluruh warga madrasah dan orang tua murid. (gia)