Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Pembelajaran kokurikuler di MAN 2 Kulon Progo kembali menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna. Bertempat di Ruang Teater Kampus 2 MAN 2 Kulon Progo, Jumat (4/9/2026), para siswa mengikuti wawancara daring bersama Agustinus Irawan, seorang Kristiani yang berprofesi sebagai jurnalis dan praktisi media sekaligus aktivis lingkungan dan pegiat komunitas sungai.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mata pelajaran Kokurikuler dengan tema “Nilai-Nilai Moderasi Beragama sebagai Pondasi Kerukunan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.” Menariknya, seluruh siswa yang mengikuti kegiatan merupakan siswa madrasah, sementara narasumber yang dihadirkan berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Perjumpaan tersebut menjadi ruang belajar yang nyata bagi siswa untuk memahami keberagaman, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama melalui perspektif pengalaman langsung.
Menggunakan teknologi Interactive Flat Panel (IFP), kegiatan wawancara dilaksanakan secara interaktif melalui video call. Para siswa yang terbagi dalam enam kelompok secara bergantian mengajukan pertanyaan kepada Agustinus Irawan.

Sebagai seorang jurnalis, praktisi media, sekaligus pegiat lingkungan dan komunitas sungai, Agustinus juga menekankan pentingnya membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan tanpa membedakan latar belakang seseorang. Semangat menjaga lingkungan, menurutnya, dapat menjadi ruang bersama yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa. Mereka tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai moderasi beragama dari buku atau materi pembelajaran, tetapi juga dapat mendengar langsung pengalaman seseorang yang hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang beragam.
Di sela-sela kegiatan, Agustinus Irawan juga memberikan apresiasi terhadap karakter dan potensi generasi muda saat ini. Ia melihat generasi Alpha sebagai generasi yang memiliki akses luas terhadap pengetahuan melalui perkembangan teknologi. “Anak-anak Gen Alpha ini adalah sosok penyemangat. Melalui gadget dan sarana IT, bahkan lewat AI, mereka bisa mendapatkan beragam hal yang mereka sukai sekaligus mereka butuhkan. Dan mereka butuh guru yang sekaligus bisa menjadi teman bermain serta sahabat berpikir, seperti Bu Astiti ini,” tutupnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kesan menarik dalam kegiatan wawancara. Perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), dipandang bukan semata-mata sebagai tantangan bagi dunia pendidikan, tetapi juga sebagai peluang untuk memperluas wawasan dan pengalaman belajar siswa. (ast/giant)