Sabtu, 11 Juli 2026

4 Siswa MAN 2 Kulon Progo Raih Juara Terbaik Story Telling pada Napak Tilas Revolusi Fisik di Bumi Menoreh

Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa MAN 2 Kulon Progo. Empat siswi delegasi madrasah, yakni Andini, Najwa Arwenia Putri Susanto, Syifa Eka Kinanthi, dan Asma’ Aulia Syahidah, berhasil menyabet gelar Juara Terbaik dalam kompetisi story telling yang diselenggarakan di sela-sela kegiatan Napak Tilas Revolusi Fisik di Bumi Menoreh pada Rabu (1/7/2026).

Kegiatan napak tilas ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo dan diikuti oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari siswa SMA/MA se-Kulon Progo, guru sejarah, mahasiswa, perangkat Desa Banjarasri, serta para pegiat sejarah dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Rute napak tilas dimulai dari Rumah Mbah Martowijoyo di Watukeker, melewati Rumah Mbah Nitirejo, MBKD, RSU Santo Yusuf Boro, hingga berakhir di Gereja Katolik Paroki Santa Theresia Lisieux, Boro, dan Kalurahan Banjarasri. Di tengah perjalanan, tepatnya di RSU Santo Yusuf Boro, panitia mengadakan berbagai lomba kesejarahan, salah satunya adalah story telling mengenai Revolusi Fisik di Bumi Menoreh.

Bersama keturunan Nitirejo, pemilik rumah tempat AH Nasution menginap saat mempertahan Yogyakarta dari agresi Belanda

Selama mengikuti rangkaian acara, para siswa MAN 2 Kulon Progo tampak sangat aktif dan menikmati setiap momen perjalanan sejarah tersebut. Tingginya antusiasme ini bahkan membuahkan apresiasi bagi salah satu peserta, Najwa Arwenia Putri Susanto, yang berhasil mendapatkan hadiah dari panitia karena keaktifannya dalam memberikan testimoni serta tanggapan positif terkait penyelenggaraan kegiatan napak tilas.

Keempat siswi ini tampil memukau para juri dan peserta lainnya saat kompetisi story telling. Atas raihan juara terbaik tersebut, Andini mengaku sangat bahagia dan tidak menyangka.

“Jujur, kami merasa sangat senang sekaligus tidak mengira bisa mendapatkan gelar juara terbaik. Mengingat persiapan yang kami lakukan sangat mendadak, kami sempat merasa gugur mental. Namun, kami berusaha memberikan penampilan yang terbaik,” ujar Andini.

Senada dengan Andini, Syifa Eka Kinanthi juga mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas pengalaman ini.

“Kami sangat bersyukur. Walaupun persiapannya sangat singkat, kami saling menguatkan. Ternyata kerja keras mendadak itu membuahkan hasil yang manis. Ini pengalaman yang tak terlupakan bagi kami,” tambah Syifa.

Di Watukeker perbukitan Menoreh di atas Boro Banjarasri, tempat pengamatan dan persembunyian tentara Indonesia

Guru pendamping tim, H. Karyawanto, S.Pd., menyampaikan rasa bangga atas kesungguhan dan keberanian para siswinya. Menurutnya, mengikuti acara ini memberikan keuntungan yang sangat besar bagi para siswa.

“Keuntungan mengikuti kegiatan seperti ini sangat luar biasa. Selain menambah wawasan kesejarahan secara langsung di lokasi kejadian, siswa juga terlatih untuk berpikir kritis, meningkatkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap perjuangan para pahlawan di tanah kelahirannya sendiri. Ini adalah pembelajaran kontekstual yang tidak bisa didapatkan hanya di dalam kelas,” jelas H. Karyawanto.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa siswa MAN 2 Kulon Progo memiliki potensi besar dalam bidang literasi sejarah dan mampu bersaing di tingkat kabupaten. (gia)

Bagikan pada...

Lihat juga

Gerak Cepat Tamandaku, MAN 2 Kulon Progo Siap Songsong Penilaian CSAM 2026

Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Tim Adiwiyata MAN 2 Kulon Progo (Tamandaku) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *