Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Materi kedua dalam rangkaian Latihan Kepemimpinan Dasar (LDK) MAN 2 Kulon Progo Tahun 2026 menyoroti pentingnya mental juara yang berlandaskan integritas. Materi bertajuk “Membangun Mental Juara” ini disampaikan oleh Erik Hadi Saputra, M.Eng., Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta, pada Selasa (3/2/2026).
Kegiatan LDK MAN 2 Kulon Progo diikuti oleh 90 siswa perwakilan organisasi kesiswaan dan ekstrakurikuler, dan diselenggarakan selama tiga hari, 3–5 Februari 2026. Dua hari kegiatan dilaksanakan secara indoor di Aula Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu Kampus Pusat MAN 2 Kulon Progo, Jalan Pahlawan Gotakan Panjatan, dan satu hari kegiatan outdoor di Pulesari Camp and Outbound, Pakem, Sleman.
Dalam pemaparannya, Erik Hadi Saputra menegaskan bahwa mental juara tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi tentang sikap, karakter, dan konsistensi nilai yang dijaga oleh seorang pemimpin, terutama integritas. “Mental juara lahir dari integritas. Tanpa integritas, prestasi hanya bersifat sementara dan mudah runtuh,” ungkapnya di hadapan peserta LDK.

Ia menjelaskan bahwa integritas tercermin dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Dalam sesi yang berlangsung komunikatif dan penuh dialog tersebut, Rik Hadi Saputra memaparkan lima contoh bentuk integritas yang perlu dimiliki oleh calon pemimpin muda.
Pertama, menghormati pendapat dan ide orang lain, meskipun berbeda atau tidak sejalan dengan pandangan pribadi. Kedua, menangani konflik secara tenang, adil, dan dengan penuh rasa hormat, tanpa mengedepankan emosi. Ketiga, menjadi role model bagi orang lain, dengan menunjukkan perilaku yang konsisten antara ucapan dan tindakan.
Keempat, siap bekerja keras dan berani menghadapi tantangan, termasuk kegagalan dan tekanan dalam berorganisasi. Kelima, berani melaporkan perilaku tidak etis, sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga nilai dan aturan yang telah disepakati bersama.
“Integritas itu diuji bukan saat kita diawasi, tetapi justru saat kita memiliki kesempatan untuk menyimpang namun memilih tetap lurus,” tegasnya.
Penyampaian materi berlangsung interaktif, dengan banyak dialog antara narasumber dan peserta. Erik Hadi Saputra kerap melempar pertanyaan reflektif dan studi kasus sederhana yang membuat peserta aktif menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka dalam berorganisasi. (gia)