Kulon Progo (Humas MAN 2 Kulon Progo) – Dalam rangka mempererat ukhuwah dan kebersamaan antar keluarga besar madrasah, MAN 2 Kulon Progo menyelenggarakan Pengajian Keluarga Guru dan Pegawai yang bertempat di Balai Desa Jatirejo, Botokan, Jatirejo, Lendah, pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan pegawai MAN 2 Kulon Progo beserta keluarga, sebagai ikhtiar memperkuat silaturahmi, meneguhkan nilai keislaman, serta membangun keharmonisan keluarga sebagai fondasi utama dalam kehidupan dan pengabdian di madrasah.
Pengajian menghadirkan mubaligh Drs. H. Saebani, MA, M.Pd., yang menyampaikan tausiyah secara reflektif dan menyentuh. Dalam ceramahnya, H. Saebani mengajak jamaah untuk bercermin terhadap realitas keberagamaan umat Islam di Indonesia. Ia menggambarkan adanya ragam kondisi keislaman di tengah masyarakat, mulai dari mereka yang benar-benar menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh, hingga sebagian yang berislam sebatas identitas tanpa diiringi pemahaman dan pengamalan yang memadai. Refleksi ini disampaikan sebagai pengingat agar setiap muslim senantiasa memperbaiki kualitas iman dan amalnya.

Lebih lanjut, H. Saebani mengingatkan tentang sebuah masa yang pernah disabdakan Rasulullah, ketika Al-Qur’an masih dibaca dan ditulis, namun nilai-nilainya semakin jauh dari pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk menghidupkan gerakan spiritual dalam kehidupan keluarga dan profesi, dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, memperbanyak istighfar, melibatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan, menyesuaikan kemampuan dalam beramal secara istiqamah, serta membiasakan doa dan munajat bersama dalam bentuk istighosah.
Dalam kesempatan tersebut, H. Saebani juga menjelaskan tahapan usia manusia sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus disikapi dengan kesadaran iman. Masa usia muda dipandang sebagai fase tumbuhnya cinta dan semangat membangun kehidupan. Memasuki usia paruh baya, kehidupan seharusnya diwarnai dengan kasih sayang, kedewasaan, dan keteladanan. Sementara pada usia lanjut, orientasi hidup diarahkan pada persiapan menuju akhir yang baik atau husnul khatimah. Ia menekankan pentingnya memautkan hati dengan masjid, menjadikannya sebagai pusat ibadah, ketenangan jiwa, dan pembinaan ruhani.
Saebani menegaskan bahwa keluarga merupakan landasan utama dalam pembentukan karakter dan akhlak. Dari keluargalah lahir pribadi-pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan berakhlakul karimah. Ia juga mengingatkan peran strategis guru sebagai teladan di tengah masyarakat. Menurutnya, tidak semua orang yang berprofesi sebagai guru telah menjalankan peran keguruannya secara ideal. Seorang guru sejati adalah mereka yang mengajar dengan ilmu, keteladanan, dan keikhlasan, bukan semata menjalankan kewajiban formal.
Sebelum tausiyah, Kepala MAN 2 Kulon Progo, H. Riza Faozi, S.Sg., M.S.I., menyampaikan sambutan sekaligus apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menuturkan bahwa pengajian keluarga ini menjadi sarana penting untuk memperkuat ikatan batin antar keluarga besar MAN 2 Kulon Progo, sekaligus meneguhkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut H. Riza Faozi, keluarga merupakan pilar utama yang menopang kualitas pribadi seorang guru dan pegawai. Ketika keluarga terjaga keharmonisannya, maka hal tersebut akan berdampak positif pada kinerja, keteladanan, dan pelayanan pendidikan di madrasah. Ia berharap kegiatan pengajian keluarga dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan sebagai wahana silaturahmi, refleksi diri, dan penguatan spiritual.
Pengajian Keluarga Guru dan Pegawai MAN 2 Kulon Progo berlangsung dengan suasana khidmat, penuh kehangatan, dan sarat rasa kekeluargaan. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, dengan harapan agar seluruh keluarga besar MAN 2 Kulon Progo senantiasa diberi keberkahan, kekuatan iman, serta kelapangan hati dalam menjalankan peran sebagai pendidik dan pelayan umat. (gia)